Tidak puasa? pahami dulu cara membayar hutang puasa

halalbener.com – “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Surah Al-Baqarah ayat 183. Namun Allah juga memberikan keringanan bagi umat muslim yang tidak dapat menjalankan ibadah puasa. Hal tersebut terjadi karena sakit, hamil, atau sedang datang bulan. Bagi orang yang tidak dapat menjalankan puasa dan tidak dapat menggantinya di lain hari maka wajib hukumnya membayar fidyah. Fidyah dikeluarkan sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan.

Orang yang membayar fidyah

  1. Orang yang sedang dilanda sakit parah dan tidak dapat sembuh dalam waktu yang lama dan tidak memungkinkan untuk membayar puasa dihari lain
  2. Orang tua yang kondisi kesehatannya sudah menurun, karena jika harus membayar hutang puasa dengan puasa dilain hari malah akan membuat kondisi kesehatan menurun
  3. Orang hamil dan menyusui

Cara membayar fidyah
Membayar fidyah adalah dengan mengganti satu hari puasa yang ditinggalkan dengan memberi makan satu orang miskin. Hal ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu

  1. Memasak kemudian mengundang orang miskin sejumlah hari yang tidak puasa di bulan ramadhan.
  2. Memberikan makanan yang belum dimasak kepada orang miskin.
    Pemberian ini dapat dilakukan sekaligus, misalnya membayar fidyah untuk 20 hari disalurkan kepada 20 orang miskin. Atau dapat pula diberikan hanya kepada 1 orang miskin saja sebanyak 20 hari. Al Mawardi mengatakan, “Boleh saja mengeluarkan fidyah pada satu orang miskin sekaligus. Hal ini tidak ada perselisihan di antara para ulama.”

Besaran fidyah
Ulama Malikiyah dan Syafiiyah berpendapat bahwa kadar fidyah adalah 1 mud bagi setiap hari tidak berpuasa. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa kadar fidyah yang wajib adalah dengan 1 sho kurma, atau 1 sho syair (gandum) atau sho hinthoh (biji gandum). Ini dikeluarkan masing-masing untuk satu hari puasa yang ditinggalkan dan nantinya diberi makan untuk orang miskin. Al Qodhi Iyadh mengatakan, Jumhur (mayoritas ulama) berpendapat bahwa fidyah satu mud bagi setiap hari yang ditinggalkan. Beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Sholih Al Fauzan dan Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al Ilmiyyah wal Ifta (Komisi Fatwa Saudi Arabia) mengatakan bahwa ukuran fidyah adalah setengah sho dari makanan pokok di negeri masing-masing (baik dengan kurma, beras dan lainnya). Mereka mendasari ukuran ini berdasarkan pada fatwa beberapa sahabat di antaranya Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma. Ukuran 1 sho sama dengan 4 mud. Satu sho kira-kira 3 kg. Maka setengah sho kira-kira 1 kg. Itulah besarnya fidyah yang harus dikeluarkan.

Waktu pembayaran fidyah
Seseorang dapat membayar fidyah pada hari itu juga ketika dia tidak melaksanakan puasa. Atau diakhirkan sampai hari terakhir Bulan Ramadan. Yang tidak boleh dilaksanakan adalah pembayaran fidyah yang dilakukan sebelum Ramadan atau ketika memasuki Bulan Sya’ban. Contohnya, orang yang sakit atau ibu hamil dan menyusui tidak boleh mendahului dalam membayarkan fidyahnya sebelum memasuki Bulan Ramadan. Fidyah harus dibayar ketika sudah memasuki Bulan Ramadan atau setelah Bulan Ramadan berakhir.